Sekar's Story

Mau Ngedidik Anak Jadi Apa?

11.00.00


Ini pertanyaan utama saya dan Fathur. Setelah berdiskusi, hasilnya adalah..........

.........jadi apa aja boleh yang penting masuk surga. Cita-cita dunia mah bebaskan, tapi akhirat suatu keniscayaan.

Hahaha. Klise.

Pertanyaan selanjutnya, poin-poin apa aja yang harus kami ajarkan ke Sekar supaya Sekar bisa masuk surga?

Kan harus detail ya, ga bisa gitu bilang 'pengen Sekar jadi anak sholehah, baik, pintar' aja. Semua orangtua juga pengen anaknya sholehah-baik-pintar, tapi kan harus ada yang diajarin ke anaknya supaya si sholehah dkk ini tercapai.

Kata Fathur, yang paling utama itu karakter anak. Kaya gimana sih karakter itu?

Contohnya gini. Ibu khadijah dan Ibu Aisyah adalah contoh teladan yang baik. Tapi karakter keduanya berbeda. Ibu Khadijah itu pemberani, kuat, dan lebih ekspresif. Sementara Ibu Aisyah itu lebih kalem, sweet, dan lemah lembut. Keduanya sama-sama baik tapi dengan karakter yang berbeda.

Nah, kata orang kan bayi tuh ibarat kertas putih. Kita sebagai orang tua adalah pelukis yang akan melukisnya jadi seperti apa.

Terus, saya bingung mau membentuk Sekar jadi yang gimana. Jadi anak pemberani atau jadi anak yang sweet lemah lembut? Mau menyisipkan karakter yang gimana lagi buat Sekar?

Kata Fathur mah ajarin aja semua hal baik. Kita ajarin dia tentang keberanian dan kekuatan, kita ajarin dia tentang empati dan simpati, kita ajarin dia tentang lemah lembut dan penyayang, pokoknya semua yang baik-baik ajarin aja. Biar Sekar nanti yang menentukan ingin menjadi karakter yang bagaimana.

"Terserah Sekar. Pokoknya tugas kita mah ngenalin dia sama hal baik."

Gitu.

Padahal emaknya pengen dia jadi pemberani, kuat, ngga melow, kaya ibu Khadijah. Hahaha. Sutralah ku takan memaksa, gimana Sekar aja.

Jadi, PR kami adalah mengenalkan semua hal baik.

Hal baik tuh kan ada banyak ya. Harus yang mana dulu yang saya ajarin?

Biar gampang mah saya mau buat list poin-poin apa aja yang bakal saya ajarin ke Sekar.

Sok-sok'an terstruktur gitu ya. Haha. Bodo ahh. Kan biar gampang :p

Tunggu di postingan selanjutnya ya. See you :*

You Might Also Like

8 komentar

  1. Semoga sesuai harapan nantinya yaa

    BalasHapus
  2. Saya sering mikir, setelah saya punya anak kayak skrng, pas saya ngajarin dia, ternyata saya ngajarin diri sendiri. Karena pada waktu ngajarin anak saya, saya harus ngasi contoh, saya praktekin (dgn sengaja) supaya anak saya niru. Jadi pas saya mikir-mikir, duh ngajarin anak saya bekel apa ya biar dia masuk surga, ternyata saya yg terlebih dulu harus mikir saya pgn masuk surga. Hahaha lieur ah. Monkey see, monkey do. Gitu ceunah kata bule :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Enya, Teh. Bener pisan.

      Banyak kan yang bilang, "sing nurut ka orangtua, kudu haturnuhun tos kieu kitu."

      Sebenernya kita juga harusnya terimakasih sama anak diajarin ini itu.

      Hapus
  3. Saya sama suami biasanya bahas ini anak sukanya apa. Jd kalau udh ketauan saya sama suami tinggal arahin. Dan mendidik anak yg penting memang mengenalkan hal2 yang baik. Setuju pisan teh

    BalasHapus
    Balasan
    1. Taunya si anak suka sesuatu tuh gimana, Teh? Sharing dooooong. Hehe

      Hapus
  4. Pendidikan karakter.
    Kalau aku mmg itu yg aku utamakan setelah ilmu agama. Karakter yg kuat tanpa landasan agama hny akan membuat anak jd org yg sombong. Sdgkan ilmu agama tanpa karakter ya podo anak juga ga bisa berbuat apa2 utk agamanya. Tfs mba. Aku juga pengen nulis ini ntar di blog. Thx idenya ��

    BalasHapus
  5. Aku malah ga kepikiran membentuk karakter ini. Kalaupun nanya pasti cita2 nya jd apa lalu diarahin. Kalau soal sifat ini aku lebih alami biarkan saja anaknya cuma klo ga baik diingatkan gitu. Anak pertama sy galak tp ya its okey asal pd tempatnya klo sdh ga wajar kita nasehati... tp ya balik ke masing2 lg ya, teh hehe

    BalasHapus