PR Orangtua Untuk Anak-Anaknya

07.13.00


Ada yang udah baca tulisan Bunda Elly Risman, sang pakar psikolog kecintaan emak-emak masa kini?

Yang ini loh....

Tentang kasus bunuh diri 2 perempuan di Apartement Gateway yang ternyata adalah kakak beradik. Dari keterangan yang didapat, ternyata si 2 perempuan ini mengalami depresi kejiwaan setelah ibunya meninggal.

Bunda Elly membahas tentang kenapa mereka bisa kepikiran bunuh diri.

Beliau berpendapat, banyak orangtua yang tanpa disadari ternyata pola asuhnya menghasilkan anak yang di kemudian hari kurang bisa bertahan menghadapi kehidupannya sendiri. Saya berkesimpulan, manja lah ya maksud Bunda nih.

Jadi mungkin korban bunuh diri ini, depresi tingkat tinggi karena ibu yang selama ini jadi tempat mereka bergantung, udah ngga ada.

Menurut Bunda Elly, orangtua memang selalu punya insting untuk melayani sang anak sampai ke hal terkecil. Misal,

#Anak mengeluh karena mainan puzzlenya tidak bisa nyambung menjadi satu, "Sini...Ayah bantu!"

#Tutup botol minum sedikit susah dibuka, "Sini...Mama saja."

#Tali sepatu sulit diikat, "Sini...Ayah ikatkan."

#Kecipratan sedikit minyak, "Sudah sini, Mama aja yang masak".

Ini sedikit kebiasaan di masa kecil yang akan berdampak pada sifat dan sikap si anak saat dewasa.

Kalau kata Bunda Elly, "kapan anaknya bisa? Kalau bantuan selalu datang walaupun tanpa adanya bencana. Gimana nanti kalau bencana yang besar benar-benar datang?"

Sakit sedikit, mengeluh. Berantem sedikit, minta cerai. Masalah sedikit, jadi gila.

Pesan dari Bunda Elly untuk kita para orangtua dan calon orangtua, tahan lidah, tangan, dan hati dalam memberikan bantuan. Ajari anak menangani frustasi. Kalau kita selalu jadi ibu peri, apa yang akan terjadi pada anak jika kita tidak lagi bernapas esok hari? Meninggalkan mereka kala mereka belum bisa berdiri sendiri, bisa-bisa mereka ikut mati.

Gitu katanya.

Terus pas saya share ke salah satu group whatsapp, ternyata ada yang menanggapi berbeda.

Katanya, naluri orangtua, apalagi seorang ibu, memang selalu saja ingin menolong anaknya. Apalagi untuk ibu bekerja, inginnya cepet beres semua. Kalau ada yang dikerjain anaknya kan, ya lama lah ya. Namanya juga anak-anak, belum bisa set set set cepet ngerjain apa-apanya. Kalau ibu bekerja harus nungguin anaknya dulu nyelesein sesuatu, ya bisa telat ke kantor laaah. Gitu katanya.

Selain itu juga, ibu bekerja punya perasaan bersalah karena ngga bisa nemenin anaknya seharian. Jadi ketika sedang bersama ibunya, ya ibunya pengen atuh melayani anaknya mumpung lagi di rumah. Gitu.

Nah, saya termasuk produk anak yang dilayani. Betul ibu saya bekerja, ditambah saya anak tunggal pula. Yang mana pasti perhatian orangtua full untuk saya aja karena ngga ada anak lain yang harus diperhatiin.

Ditambah lagi ibu saya ini memang sifatnya sangat melayani. Mungkin karena anak perempuan paling besar dengan banyak adik, jadi beliau terbiasa membantu mengurus adik-adiknya. Pas punya suami dan anak, ya ibu super duper melayani kami sekali lah.

Ini yang terkadang memunculkan sisi manja saya. Iya saya manja, tanpa disadari. Bukan manja yang sikapnya mènyè-mènyè gitu. Tapi lebih ke sifat.

Contoh kecilnya, tbh saya terbiasa makan disuapin. Kebiasaan ini baru berhenti sampai saya masuk kerja. 😅

Disuapin ini tuh bener-bener kebiasaan yang bikin ketergantungan. Awalnya mah ya gitu, karena buru-buru biar cepet yaudah suapin aja. Tapi lama-lama sampe gede jadi kebiasaan, terus jadi ngga sarapan kalau ngga disuapin. Bisa-bisa sarapannya jam 11 siang kalau ga disuapin. Karena apa? Karena malas, biasanya tinggal hap lah. Kalau ga disuapin kan mesti ambil piring, ambil nasi, nyuap makan.

Iya alasannya se-engga banget itu 😥

Pola asuh sederhana kaya gitu aja ternyata bikin saya ga bisa mandiri urusan makan kan yah?! Berarti bener kata Bunda Elly, kebiasaan yang kita lakuin waktu kecil, sedikit banyak akan membentuk karakter kita saat dewasa.

Yang perlu diingat adalah orangtua ga bisa selamanya membersamai atau bahkan melayani anaknya. Ada masa dimana si anak akan dewasa, hidup sendiri, dan bertahan di kehidupannya sendiri.

Atau anaknya bakal hidup ketergantungan terus sama orangtua SAMPAI DEWASA. 

Alhamdulillahnya saya berhasil keluar dari zona nyaman disuapin, walaupun perjuangannya harus sakit maag berbulan-bulan dulu 😂

Karena percayalah, mengubah kebiasaan yang udah berlangsung belasan tahun itu ga gampang. Bahkan sesederhana makan sendiri juga susah, Sist! (Atau mungkin gw aja kali ya?! 🤔)

Ini jadi salah satu PR besar saya nih buat jadi orangtua. Bagaimana kita bisa menciptakan karakter anak yang siap menghadapi segala permasalahan hidup pada zamannya. Karena pasti zaman kita sekarang, bakalan beda sama zaman anak kita nanti tumbuh dan berkembang.

Denger cerita katanya naluri seorang ibu pasti ingin membantu, duuuh gimana ya saya nanti? Bisa ga ya kuat mental untuk nahan-nahan diri. Tega ga ya?

Atau nanti saya bisa ngga ya menerapkan pola asuh yang benar?  😢

Sekarang sih udah pasti kita ngebayangin bakal ngedidik anak begini begini begini. Tapi, sukses diterapkan ngga tuu?

Mengutip doa dari Bunda Elly untuk para orangtua di seluruh penjuru dunia, "Selamat berjuang mencetak pribadi yang kokoh dan mandiri. Tuntun mereka dengan ikhtiar dan doa"

Aamiin. Semangat!

You Might Also Like

1 komentar

  1. aku termasuk ibu bekerja yang justru memang ingin anakku bisa mandiri, memang lama dan bikin aku ga sabar mba tapi bagiku disitulah anakku belajar, berproses untuk menjadi BISA. terlebih keadaanya aku selain kerja juga kadang keluar kota maka kudidik anakku untuk mandiri sedari kecil meski sekarang juga masih kecil si hehehe tapi seenggaknya dia sudah memahami proses :)

    BalasHapus