WhatDoIThinkAbout

1: Someone Who Doesn't Know When To Speak Or Listen

09.57.00

Judulnya panjang banget yah?!

Intinya saya mau menuliskan sedikit opini tentang orang yang ngga tahu kapan dia harus berbicara dan kapan dia harus mendengarkan. Mostly, terjadi pada PEREMPUAN, dan saya perempuan *sigh*

Kita sering kan yah ribut di dalem kelas bahkan walaupun guru/dosen sedang menerangkan pelajaran di depan kelas. Kenapa ya? Saya juga gak tau sih, mungkin pelajarannya membosankan dan ada temen sebangku yang bisa diajak ngobrol jadinya ngobrol deh. Terus ini bukan cuma terjadi di satu bangku, mungkin di bangku lainnya ada teman yang jenuh, terus ngobrol juga. Dari suara bisik-bisik di satu bangku, ditambah bangku lainnya yang berbisik-bisik juga, terus bangku-bangku lain-lainnya juga, kan lama-lama suara bisik-bisiknya memenuhi seisi ruangan kelas, udah kaya bukan suara bisik-bisik lagi. Ribut.

Mangkanya guru/dosen suka ada yang protes, karena suaranya udah mengganggu kali yah. Kalau cuma sekedar mengeluarkan suara bisikan 'pinjam penghapus dong' doang mah ngga akan apa-apa sih kayanya, tapi kalau dilanjut 'pinjam penghapus dong. Eh ini penghapus baru yah? Beli dimana? Oh iya aku juga kemarin kesana. Kok kita ngga ketemu yah. Oh kamu di lantai 2. Bla bla bla bla' jadi berlanjut ngegosip, kan jadi panjang. Ribut.

Salah satu pelaku pembuat keributan adalah saya. HAHAHA. Dulu sewaktu Sekolah begitu tuh. Kalau ditanya kenapa? Entahlah. Saya juga gak tahu kenapa, demen aja ngobrol sama temen sebangku di jam pelajaran. Mungkin lebih menantang dibanding ngobrol disaat istirahat. Weird.

Eh tapi beranjak masuk kuliah saya ngerasa udah jarang ngobrol di jam pelajaran loh. Hebat kan! Iya jarang, sesekali masih sih kalau jam praktek lab, kalau jam kuliah di kelas kayanya hampir gak pernah deh. Saya ingat-ingat dulu ya alasannya.....
Pertama, karena dulu waktu saya kuliah bangkunya sendiri-sendiri. Tau kan yah kursi kampus, kursi+meja yang built in. Terus karena ruangan kelasnya besar sementara jumlah muridnya cuma 27 orang, jadinya antar satu bangku dengan bangku lainnya jaraknya cukup jauh. Ngga memungkinkan buat ngobrol kecuali emang niat banget geser bangku biar deketan.
Kedua, dosennya hampir semua killer. Ngga ngebolehin kita mengeluarkan suara sedikitpun. Bahkan kalau batuk/bersin pun kita bakal jadi pusat perhatian. So, diam aja deh merhatiin.
Ketiga, temen-temen di kelas waktu itu mayoritas cowok. Dan kayanya cowok emang ngga suka ngobrol di kelas mungkin yah?! Pokoknya waktu itu tuh anak-anaknya diem semua kalau lagi kuliah di kelas. Ckckck. Mereka rajin apa sok rajin? Ternyata ngga dua-duanya sih. Ketika di luar kelas, ya sama aja rame.

Selama 4 tahun bareng mereka dengan kebiasaan seperti itu, saya jadi bisa diam di kelas. Bukan cuma itu sih, saya jadi sadar bahwa ada waktunya kapan kita harus diam dan kapan kita harus berbicara. At least ketika di forum yang mengharuskan seseorang berbicara di depan, alangkah baiknya kita mendengarkan si orang yang sedang berbicara. Karena kan prinsipnya berbicara dan mendengarkan. Kalau berbicara dan berbicara, atau mendengarkan dan mendengarkan, forum apa itu? Semua berbicara atau semua hanya mendengarkan. Nanti kan ada waktunya kita yang berbicara, tapi nanti.

Diam dan mendengarkan orang berbicara ternyata mengasikan loh. Bahkan di dalam kelas dengan mata kuliah yang membosankan pun, saya bisa diam. Ya bukan diam dan memperhatikan mata kuliahnya sih, kadang saya memperhatikan tingkah dosennya, kadang memperhatikan teman yang sedang terkantuk-kantuk, atau bahkan melamun. Ya gimana atuh, kalau pelajarannya ngebosenin mah saya juga gak bisa pura-pura mengerti yang dosen terangkan. Tapi kan intinya diam, menghargai yang sedang berbicara di depan.

Ibu saya pintar, she is my role model for several occasion, sepertinya salah satu yang membuat beliau pintar adalah dengan mendengarkan dan berbicara. Beliau tahu kapan harus berbicara dan kapan harus mendengarkan. Dari beliau juga saya belajar hal itu. Tapi tetep sih saya ngga pinter kaya ibu :(

Kebiasaan berbicara dan mendengarkan ini bisa kita lihat juga di dunia bekerja. Contoh sederhananya ketika sedang rapat. Seseorang sedang berbicara atau presentasi tentang hasil kerjanya di depan peserta rapat yang lain. Sometimes, ada aja deh yang ngobrol sama temennya. Emang apa sih yang lagi diobrolin? Lebih penting daripada ngedengerin orang yang lagi ngomong depan kita? Lebih penting dari menghargai mereka berbicara? Engga bisa diobrolin nanti setelah rapat selesai, atau seenggaknya sampai break rapat gitu? Eh tapi beda lagi loh kalau hal yang membuat kita terpaksa 'ribut' itu hal yang urgent, sangat membuat kita senang, atau sangat membuat kita sedih. Selama ngga berkelanjutan sih, kayanya gapapa deh. Kayanya. Aku juga suka gitu soalnya :p

Terus kenapa saya sewot? Ya karena kadang peribut-peribut ini menggangggguuuuuuuu. Guru/dosen aja sampai harus bilang, 'Ayo diam anak-anak!', atau 'Saya ngga akan mulai pelajaran kalau kalian belum bisa diam'. Belum lagi kalau ada murid/mahasiswa yang bener-bener pengen belajar, kan bisa terganggu kalau suasana kelasnya ribut.

Kalau kita lagi fokus ngedengerin orang ngomong, terus ada yang interupt, suka kesel ngga? Kesel saya mah, jadi ada info yang kelewat  yang si pembicara omongin gara-gara peribut ini ngajak saya ngobrol juga. Ckckck.

Saya juga dulu salah satu aktor peribut sih, tapi untungnya banyak yang menyadarkan kalau itu teh ngga baik. Bukan cuma mengganggu, tapi ya emang ngga baik. Ngga baik kalau ada orang lain ngomong, tapi ngga kita dengerin. Dan ngga baik juga kan kalau kita ngomong, tapi ngga ada yang dengerin?!

Emang apa manfaatnya ribut di suatu forum?

You Might Also Like

0 komentar