Bandungku, Ini Bandungku

16.04.00

Aku perlu berterimakasih pada Bandungku hari ini. Iya Bandungku, biarkan aku egois memilikinya. Hanya untukku, Bandungku.

Kali ini aku akan bercerita tentang Bandungku agar kau rindu, atau mungkin cemburu.
.....


Bandungku Sore Ini

Kegalauan semalam membuatku malas untuk bangun. Bahkan walaupun dering alarm telepon genggam ini melantunkan lagu Banda Neira, "Bangun, sebab pagi terlalu berharga tuk kita lewati dengan tertidur". Rasanya mimpi semalam lebih menyenangkan.

Memutar keran air untuk mensucikan diri. Ahh sedikit segar rasanya, air ini dingin karena semalaman mengendap di toren atap rumah. Atau mungkin ada yang sengaja memasukan 1 kilogram es balok ke dalamnya?

Ritual pagi yang selalu aku (dan mungkin kaupun begitu) lakukan, sarapan. Tidak dengan beras yang dinanak hingga menjadi nasi, ataupun roti yang diolesi selai, tetapi buah mangga sarapanku. Hasil panen dari pohon di halaman rumah. Rasanya manis tapi tak terlalu manis. Pas. Seperti senyumanmu.

Bersiap hendak mencari ridho illahi dengan bekerja. Membuka pintu rumah untuk pertama kalinya di hari ini, angin segar sedikit kencang berhembus masuk. Ah! Rasanya sejuk sekali, seperti terbawa ke Bandung yang jika dibuatkan film warnanya akan sephia. Suara dedaunan yang terhembus angin, seolah mereka sedang berbincang akan nikmatnya sejuk pagi ini. Tidak mau kalah, dedaunan kuning yang gugur berlarian di jalanan, kicau burung pun melengkapi luar biasanya pagi ini. Disinilah aku memulai berterimakasih pada Bandungku hari ini.

Deru mobil sudah siap mengantarku pergi, tak lupa kupakai kacamata hitam dengan lensa lebar ala The Beatles peninggalan bapak. Matahari ini tetaplah menampakan kekuatannya, tanpa maksud mengalahkan angin, Matahari justru melengkapi angin agar aku tetap merasa hangat dan sejuk bersama pagi yang indah ini.

Kaca jendela mobil sengaja kubuka, kubiarkan angin-angin dan sinar Matahari serta alunan musik Tulus menemaniku sepanjang jalan. Hangatnya Matahari menenangkan, segarnya anginpun turut menyemangatiku.

Kulihat antrian mobil dan motor di jalanan pengendaranya tak sedikitpun tersenyum. Aku siap bergabung bersama mereka. Tapi tidak, tidak dengan wajah muram seperti itu. Aku tak henti menyunggingkan senyum. Aku tak mau Matahari, Angin, dan Bandungku kecewa. Hmmm, kuralat. Aku lebih kepada tersugesti oleh kerja keras mereka membuatku tersenyum.

Sembari sesekali ikut berdendang, kuperhatikan banyak sekali rombongan bocah mengenakan pangsi dan kebaya. Perayaan Hari Kartini? Tapi ini Bulan September. Oh ini Hari Rabu! Walikota Bandungku mewajibkan semua siswa Sekolah Dasar berkontribusi mengikuti program Rebo Nyunda. Lucu. Sengaja kuhentikan laju mobil untuk mempersilahkan rombongan pangsi cilik ini menyebrang. Beberapa bocah mengacungkan kelima jarinya ke atas memberi tanda agar kami, pengguna jalan, berhenti.

Kulanjutkan perjalanan. Bandungku kini padat. Suasana Bandung yang nyaman membuat semua orang ingin tinggal disini. Tempat yang nyaman selalu banyak peminatnya, iya kan? Tak kuhiraukan antrian kendaraan ini. Aku masih terlena dengan alunan musik dan hembusan Angin.

"Nikmaaatilaaah kejuuutankuuuuu. Ini aku yang baru. Nikmaaatilaaah rasa rindu. Tak lagi dikuasamu".

Tepat di sebelah mobil, lelaki pengendara motor berhenti karena antrian kendaraan ini menghambat lajunya. Melirik ke arahku, terheran mungkin melihat wanita yang asyik berdendang di tengah kemacetan. Kulemparkan senyum kecil padanya, dia terkaget sebentar lalu berbalik tersenyum sesaat sebelum antriannya mulai melaju.

Sinar Matahari ini menambah semangat, tanpa sadar setengah badanku ikut bergoyang mengikuti alunan musik. Kulihat wanita paruh baya yang duduk di dalam angkutan kota tengah asik memperhatikanku. Ketika kedua mata kami bertemu, beliau memberikan senyuman terlebarnya (setidaknya menurutku begitu). Kubalas dengan senyuman yang tak kalah lebar dan anggukan. Kuharap beliau mengerti isyaratku, aku menyukainya yang memberiku senyuman itu.

Warga Bandung ramah-ramah, kan?! Aku suka. Kuyakin Bandungku yang membuat mereka begitu.

Bandungku selalu memiliki beribu cara untuk membahagiakanku. Seperti detik ini, sore ini. Ketika aku ditemani secangkir teh naga hangat, sinar Matahari sedang berubah jingga, tanda bahwa ia akan tenggelam berganti Bulan. Tidak, aku tidak kecewa. Aku tahu Bandungku akan menyuruh Bulan untuk menemaniku sepanjang malam, seperti ia menyuruh Matahari.

.....

P.S: Selamat ulang tahun, Bandung. Kupersembahkan tulisan ini untukmu. Tak sebanding memang dengan apa yang sudah kau berikan selama ini padaku. Terimakasih telah menjadi Bandungku. Selamat bertambah umur. Semoga kau akan terus menjadi Bandungku. Tetaplah seperti ini, jangan berubah, nanti aku sedih.

You Might Also Like

0 komentar