Pesta Demokrasi

23.15.00

Tulisan iseng lah yah buat kalian-kalian yang baru punya KTP bingung karena pertama kali ikut PEMILU, bisa jadi pencerahan harus gimana sih nyoblos tuh. Atau kalian-kalian yang udah lama punya KTP juga boleh baca artikel ini, ngga dosa. Kalo abis baca ini terus marah, baru dosa.

Terlepas dari tata cara pemilu yang sekarang harus dicoblos pake paku (dulu sempat dicontreng), saya bakal bahas dari sisi 'siapa sih yang bakal kamu pilih?'.

Saya dan ibu itu penganut paham golongan hitam (bukan golongan putih, red). Dan berbincang tentang politik dan negara itu bisa jadi topik yang menarik di meja makan. Beberapa kali tanya sama ibu,

"Bu, pilpres nanti milih siapa?".

"Apa yah? Masih bingung. Pokonya ibu gamau pilih si P".

"Kenapa?"

"Sentimen perempuan sih, dia kan mantan suaminya Mba T. Mimpin keluarga aja gagal, gimana lagi mimpin negara".

Jawaban itu yang memperkuat alasan aku buat ngga milih capres yang satu itu. Sebelumnya aku juga punya alasan lain kenapa ngga pilih bapak itu, tapi jawaban ibu lebih masuk akal ketimbang alasan aku yang sok sok aktivis. Hahaha.

Hampir lebih dari 10x tanya sama ibu, tapi belum juga dapet jawabannya. Apa capres yang sekarang ngga begitu menarik buat ibu?  Terlalu tua gitu? Sampe ibu bingung milihnya. Padahal biasanya ibu punya banyak teori menjelang pilpres. Haha. Mungkin itu dulu.

Sempat tanya sama pacar juga. Berhubung pacar saya terkadang misterius dan inginnya ditebak, jadi dari gelagatnya sih kayanya dia mau jawab gini,

"Heh, gue tuh bakal pilih pemimpin yang agamanya bagus. Karena mau gimanapun pemimpin itu harus muslim coy, walaupun kita bukan negara islam, tapi gue pengen pemimpin gue muslim. Biar bisa jadi negara yang sakinah mawahdah dan warohmah. Gitu, Bro!"

:)))

Bisa ditebak lah dia pilih partai apa yah. Saya setuju sih kalo presiden kita nanti harus muslim, tapi saya khawatir dengan banyaknya kasus dari parpol itu. Nah timbul pertanyaan, apakah sistem rekrutmen dari parpol tersebut baik? Visi misi-nya sih bagus dan jelas yah, tapi kader-kadernya bisa menjalaninya ngga? Nanti rakyatnya udah milih, eh kader/pemimpinnya ngga amanah.

Jadi aspek lain yang perlu diperhatikan menurut saya adalah gimana sih sistem rekrutmennya.

Saya pernah liat kampanye seorang model majalah yang mendaftar menjadi caleg dapil cirebon perwakilan salah satu parpol. Perempuan itu masih berstatus mahasiswi, model majalah, cantik, rambutnya panjang, dan kulitnya mulus. Tapi ketika ditanya tentang kepanjangan BNP2TKI aja melongo. (???????). Terus ditanya nama-nama daerah di cirebon ngga apal, alesannya katanya ngga mesti apal yang penting menjalankan kewajiban. Itu sih alesan bukan jawaban atuh, Mba. Miris yah!

Jadi, sistem rekruitmen parpol penting kan?! Harusnya setiap parpol punya persyaratan tertentu buat rekruitmen kadernya. Biar ngga asalan aja yang penting cantik atau yang penting terkenal.

Teman kantor saya juga ada yang jadi kader parpol islami itu. Dia datang kampanye ke saya, sambil ngasih pulpen berlambang parpol itu. Haha.

Kesempatan itu saya pake aja buat nanya,

"Eh aku liat kayanya visi dan misi partai kamu keren tuh. Apa nanti capres/calegnya bakal amanah sesuai sama visi misi awal?"

"Ya semua kader udah dilatih atuh biar satu suara. Jadi ngga bakal ada yang melenceng"

"Sistem rekruitmennya gimana itu teh? Bagus ngga? Atau sembarang orang boleh ikutan asal bisa ngaji?"

"Kalo jadi kader mah siapa aja boleh, kalo caleg/capres kan harus berbobot jadi lebih selektif milihnya"

Nah berarti ada persyaratan tertentu kan buat jadi caleg/capres perwakilan parpol itu. Tapi yang lupa aku tanya, kenapa pejabatnya sampe ada yang tersangkut korupsi. Katanya amanah. Sayang, perbincangan kali itu terpotong adzan magrib, kader parpol islami harus sholat tepat waktu.

Wawancara ringan selanjutnya dengan salah satu teman yang ngga disangka ternyata dia golput. Disayangin banget sih, pas saya tanya dia pilih apa, jawabannya golput. Tapi hak semua orang sih buat golput. Termasuk teman saya ini. Tapi seperti biasa, dia selalu hebat ketika berasumsi. Buah dari pemikiran yang matang. Pun ketika dia memilih untuk golput.

Menurut dia, golput itu dibenarkan (walaupun ibu saya menjawab dengan lantang, "eh ngga boleh golput loh"). Alasannya, dia tidak suka dengan pesta demokrasi yang sedang berlangsung sekarang. Apapun parpolnya, cara kampanyenya sama. Mendirikan baligo dan poster di tempat umum, janji-janji yang selalu manis, kampanye iring-iringan kendaraan, ada yang berkumpul dan ada yang berbicara lantang. Golput bisa jadi salah kalau yang golputnya apatis, yaitu apabila setelah pesta demokrasi selesai, lalu orang tersebut tidak berkontribusi untuk negara, atau malah mencaci maki pemimpin terpilih. Baginya golput juga berarti ikut berkontribusi. Katanya, dia bakal tetep dateng ke tempat pemilihan, masuk ke bilik suara dengan membawa kertas suara, dan menandai (dengan coretan ataupun tanda lainnya) di kertas suara agar suaranya dianggap tidak sah.

"Kenapa kaya gitu?", saya heran.

"Biar suara golput kita ngga disalah-gunakan orang lain. Kaya gitu golput yang benar", begitu yakinnya dia menjelaskan. Tapi masuk akal juga sih.

Finally, selesai sudah yah pencerahannya. Jadi siapa pilihan kalian? Bebas. Searching aja dulu di google kalo perlu. Yang jelas, siapapun pemimpinnya yang paling penting adalah kita tetap menjadi warga negara yang baik. Mau golput? Boleh. Tapi jangan sampe suara kamu disalah gunakan oleh orang yang tidak bertanggung jawab. Golput juga harus pintar dong.

Sekian. Tetap damai dan cintai negerimu :)

You Might Also Like

3 komentar

  1. Berhubung pacar saya terkadang misterius dan inginnya ditebak, jadi dari gelagatnya sih kayanya dia mau jawab gini : hehehe *tertawa mencurigakan

    BalasHapus
    Balasan
    1. Akun yang mencurigakan. Hmmmmmmm

      Hapus
    2. wkwkwkwkwk .. ninggalin jejak : http://wp.me/4z3mD

      Hapus