BBM

Hemat Energi, Yuk!

23.11.00

Setiap pagi diawal minggu selalu ditemani dengan kemacetan disana-sini. Sialnya lagi, hari ini harus membeli bensin yang antriannya (seperti kita semua tahu) mengular sampai ke ujung gerbang masuk SPBU.
 
“Isi berapa mba?” “100ribu premium yah” “Ngga coba pertamax?” “Nanti deh”
Dari pertanyaan mas-mas pom bensin tadi, saya jadi berpikir, "Iya juga yah?! Kenapa ngga ngisi Pertamax? Tapi kenapa juga harus isi Pertamax?".

Pertamax itu BBM non subsidi, sementara Premium itu BBM bersubsidi. Saya selama ini mengkonsumsi BBM bersubsidi, alasan kenapa adalah karena lebih murah. Harfiah manusia (di Indonesia) pasti memilih harga yang lebih murah walaupun sebenarnya yang mahal pun terjangkau. Sama seperti BBM, ada yang murah, kenapa beli yang mahal. Memang seperti itu, tapi kalau kita mau menelaah lebih dalam dan lebih jauh lagi, mengkonsumsi Pertamax pun tidak ada salahnya.
Sumber Foto: Dokumentasi Pribadi Penulis Menggunakan Kamera Handphone SAMSUNG S560 

Sudah sejak lama pemerintah menghimbau masyarakat untuk beralih menggunakan Pertamax. Dengan berbagai cara himbauan dilakukan. Dimulai dengan ISU akan menaikan harga Premium, membatasi pelanggan yang menggunakan Premium, dan ISU-ISU lainnya. Semua dilakukan agar masyarakat MAU beralih mengkonsumsi Pertamax. Dan dengan berbagai cara pula masyarakat menghardik, menghujat, memprovokasi, bahkan menghina ISU-ISU pemerintah yang sesungguhnya adalah himbauan halus. Coba bayangkan jika ISU-ISU tersebut adalah keputusan yang tidak ada pengecualian, kita dipaksa membeli BBM dengan harga yang melonjak tinggi. Kerusuhan seperti apa yang akan terjadi di masyarakat? Pemerintah tuh baik lagi, gitbu-gitu juga pemerintah lagi mikirin kita, masyarakatnya. Pemerintah lagi coba ngebantu kita keluar dari masalah ini. Ya emang pemerintah juga ngga bener-bener amat sih, pemerintah kan bukan Tuhan, sama seperti kita.

Tapi dipikirin lagi deh, niat baik pemerintah tanpa didukung oleh kita masyarakatnya, ya cuma niat tanpa aksi nyata. Pemerintah tidak bisa berjalan sendiri tanpa ada dukungan dari kita. Kalo bukan kita yang melaksanakan kebijakan-kebijakan itu, lalu siapa lagi? Mungkin bisa dimulai dari ISU BBM ini.
 
Sumber Foto: Dokumentasi Pribadi Penulis Menggunakan Kamera Handphone SAMSUNG S560

Sudah banyak berita tentang kelangkaan minyak dunia. Bahkan ada artikel yang menyatakan bahwa persediaan minyak di dunia hanya cukup sampai akhir tahun. Akibat dari kelangkaan ini, harga minyak dunia melonjak tajam, pasokan minyak untuk negara-negara bukan penghasil minyak dikurangi, dan berbagai macam lainnya. Oleh karena itulah pemerintah berupaya dengan berbagai macam cara untuk mensiasati kelangkaan ini. Dimulailah berbagai ISU yang lagi-lagi termentahkan oleh kita, masyarakat yang seharusnya mendukung kebijakan pemerintah. Buat saya sih, denger taun depan minyak bakal habis itu hati saya udah dag dig dug serrr. Apakabar mobil saya tahun depan? Mau dikasih minum apa nanti?
 
Nah dari situ aja saya udah berniat untuk beralih mengkonsumsi Pertamax. Ditambah lagi dengan program pemerintah bahwa Premium itu BBM bersubsidi yang notabene diperuntukan bagi masyarakat menengah ke bawah dan angkutan-angkutan umum. Kalau saya pakai Premium, berarti saya mengambil hak mereka dong? Eh tunggu dulu, saya ini ada di tingkat sosial mana? Di bawah? Atau di tengah-tengah? Tapi ngga usah pusing-pusing mikirin tingkat sosial deh, kita sendiri MAU ngga beralih ke Pertamax yang mahal itu? Kalau saya sih MAU, masalah mampu atau tidak, pokoknya saya MAU. Saya mau berbagi dengan mereka yang lebih membutuhkan dengan beralih menggunakan bahan bakar non subsidi. Siapa tahu jatah Premium yang biasa saya gunakan, bisa terpakai oleh orang-orang yang lebih membutuhkan. Diantara kita memang ada yang belum mampu menjangkau harga Pertamax, bahkan untuk membeli Premium pun sulit. Mumpung saya masih mampu, saya ingin berbagi dengan mereka melalui peralihan konsumsi bahan bakar non subsidi. Kalau suatu saat terjadi kelangkaan, kan yang ngerasainnya kita semua. Jadi, mumpung saya mampu, ya kenapa engga.
 
Saya pernah baca artikel tentang keadaan konsumen BBM diluar pulau Jawa. Mereka disana terbiasa mengkonsumsi Pertamax. Itu karena SPBU disana memang hanya menyediakan Pertamax dengan harga lebih dari harga Pertamax di Pulau Jawa, dan mereka TIDAK mengeluh. Bahkan seringkali disana sama sekali tidak ada pasokan BBM selama beberapa hari. Mereka disana sudah mengalami kelangkaan. Lalu kenapa kita disini masih bermanja-manjaan dengan konsumtif Premium? Keterbiasaan mereka bisa kita contoh kan?! Kita bisa karena terbiasa.
 
Buat kalian yang masih ragu untuk mengkonsumsi Pertamax karena takut boros, coba pahami ini!
Sumber Foto: Dokumentas Pribadi Penulis Menggunakan Kamera NIKON D3100
1 Liter Pertamax = Rp. 10.200
1 Liter Premium = Rp.4.500
 
Kendaraan yang mengkonsumsi 1 liter Pertamax, jarak tempuhnya sama apabila kendaraan tersebut mengkonsumsi 2 liter Premium.

Mobil dengan Premium = 2 x Rp.4.500 = Rp. 9.000
Mobil dengan Pertamax = Rp.10.200

Tidak jauh berbeda kan?! Kenapa? Itu karena kadar oktan Pertamax lebih tinggi dibandingkan dengan Premium. Bahkan kabar baiknya lagi adalah mesin kendaraan yang menggunakan Pertamax, performanya lebih optimal dibandingkan dengan yang menggunakan Premium. Motor atau mobil kalian kan udah baru, masa iya ngga dirawat sih?! Sayang kan :)

Saya hanya ingin mengajak kalian untuk sadar dengan keadaan kita yang sekarang, keadaan lingkungan hidup kita yang mungkin sebentar lagi tidak benar-benar hidup. Jika benci dengan pemerintah, bukan berarti kita tidak peduli pada lingkungan. Memang tidak mudah, tapi bisa kita coba. Kalo bukan kita yang peduli, terus siapa lagi?

Mudah-mudahan kita bisa istiqomah berbagi dengan cara seperti ini. Mudah-mudahan apa yang kita lakukan juga berlimpah manfaat untuk orang banyak. Dan yang lebih mudah-mudahan lagi, mudah-mudahan niat baik kita tidak diikuti dengan niat buruk dari segelintir orang. Aamiin.

You Might Also Like

4 komentar

  1. Tambahan teh gita..penggunaan gas LPG yang dipakai di rumah tiap hari..yang ukuran 3 kilo itu kan di buat dan di subsidi pemerintah untuk kalangan menengah ke bawah juga..tapi keliatan nya mungkin hampir 80% masyarakat pake nya yang 3 kilo itu yang di subsidi pemerintah..salah sasaran lagi ya..hehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah Subhan super sekali! Aku aja ngga ngeuh sama subsidi LPG, tapi itu bener banget, Han. Harusnya kita punya Subhan Subhan yang lain yang aware sama kasus-kasus tak terekspos tapi krusial.

      Makasih Subhan :D

      Hapus
  2. Kalau mau dirinci sih dilematis juga yah, di satu sisi jika tujuannya untuk menghemat bahan bakar dengan menaikkan harga, sepertinya masih kurang tepat sasaran kalau disisi lain, tidak ada pembatasan penjualan kemdaraan bermotor, karena seperti yang kita tau, harga kendaraan bermotor sekarang sudah dapat sangat terjangkau bahkan untuk segala kalangan, tapi kalau dilihat lebih dalam lagi, (misalnya) dibuat pembatasan penjualan kendaraan, krn perkotaan juga semakin padat, transportasi masal juga masih dinilai kurang, terutama dari segi kenyamanan apalagi keamanan. Kalau semuanya sudah tertib, saya pikir semua pun setuju kalau ada kenaikan demi kebaikan bersama, bukan hanya untuk kepentingan kelompok tertentu saja. Sekian. Hanya memberi pendapat, cmiiw :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betulllll! Emang dilema sih teh, harusnya ada aturan yang membatasi produksi kendaraan bermotor. Mungkin bisa dibaca tulisan ini ---> http://duniagitawatty.blogspot.com/2013/03/evolusi-budaya-berkendara_1920.html

      Promosi tulisan lagi. Hehehe.

      Salam.

      Hapus