Evolusi Budaya Berkendara

20.47.00


#7HariNaikAngkot 

Program yang sedang digalakan oleh Ridwan Kamil ini bertujuan untuk membudayakan berkendaraan umum. Kenapa? Tujuannya simple, untuk mengatasi kemacetan. Terdengar klise memang, tapi sangat ada benarnya. Mari kita telaah lebih jauh tentang permasalahan ini.

Saya pernah berbincang dengan salah seorang distributor mobil baru. Beliau bercerita tentang target penjualan mobil yang harus dicapai oleh sales-nya setiap bulan. Mencengangkan, setiap bulannya seorang sales diharuskan menjual minimal 10 mobil. Sedangkan beliau memiliki setidaknya 5 orang sales di satu cabang. Bayangkan untuk satu cabang distributor mobil saja akan terjual 50 mobil setiap bulannya. Satu cabang distributor mobil! Di kota saya saja, ada 10 bahkan lebih distributor mobil. Itu artinya akan lahir lebih dari 500 mobil setiap bulannya. Ketika semua mobil baru itu turun ke jalan, bagaimana jadinya?

Angkutan umum di Bandung sudah cukup memberikan fasilitas yang memungkinkan untuk menjangkau setiap daerah. Bahkan sampai ke beberapa pelosok di kota ini sudah dapat dijangkau menggunakan angkutan umum. Di daerah rumah saya saja contohnya, masih ada kendaraan umum yang melintas sampai pukul 21.00 WIB untuk memfasilitasi mereka yang pulang kerja shift malam. Tapi kenapa banyak diantara kita yang lebih memilih menggunakan kendaraan pribadi ketimbang menggunakan angkutan umum? Motor-motor setiap harinya terlihat seperti terparkir di lampu merah. Tidak berbeda jauh dengan mobil-mobil baru yang kinclong berderet amburadul disetiap ruas jalan. Padahal disamping itu juga kendaraan umum yang memadati ruas jalan tidak jauh berbeda jumlahnya.

Salah satu keluhan masyarakat adalah mahalnya ongkos angkutan umum.Bahkan bila dibandingkan dengan ibukota Jakarta pun ongkos angkutan umum di Kota Bandung jauh lebih mahal. Harga tiket bis trans Jakarta sekali jalan kemanapun hanya Rp3.000,-, untuk ongkos angkot jauh-dekat mereka hargai dengan 2.000 perak saja. Bandingkan dengan ongkos angkutan umum dari cicaheum sampai cicalengka di malam hari bisa mencapai Rp.10.000,-. Belum lagi ada istilah ngetem untuk angkot-angkot yang sedang kejar setoran. Mungkin itu kenapa masyarakat lebih memilih menggunakan kendaraan pribadi yang lebih efisien dan hemat waktu ketimbang menggunakan angkutan umum.

Tapi menurut saya itu evolusi budaya berkendara masyarakat kita. Saya masih ingat ketika dulu motor dan mobil masih tergolong barang mewah, tidak ada lising ataupun bank-bank yang memberikan kredit dengan bunga ringan bagi mereka yang ingin memiliki kendaraan pribadi. Angkutan umum masih merajai jalanan kota ini. Masyarakatnya menjadikan angkutan umum satu-satunya sarana transportasi mobilitas mereka. Ongkos yang murah, kuantitas angkutan umum yang memadai, dan juga sarana yang menjangkau semua tempat di kota ini. Sekarang ketika kita dengan mudahnya mendapat bantuan dana kepemilikan kendaraan pribadi, semua orang berebut ingin memiliki kendaraan pribadi. Dari mulai motor sampai mobil-mobil mewah, mungkin menurut mereka dengan membeli barang-barang mewah itu bisa mengangkat derajat sosial kehidupan mereka. Memang terlihat begitu, sayapun beranggapan demikian.

Mau sampai kapan kita terus konsumtif akan barang mewah? Ngga kasian sama jalanan kota Bandung? Masih pengen macet yang lebih parah dari sekarang? Menggunakan angkutan umum-pun tidak ada salahnya bukan?! Kita kembalikan budaya kita yang sempat hilang, #7HariNaikAngkot.

You Might Also Like

0 komentar